Perjalanan yang jauh itu membutuhkan bekal yang banyak. Seberapa jauh perjalanan manusia itu? Manusia itu pertama kali dari ruh/arwah. Setelah dari alam arwah kemudian di pindah ke perutnya ibu selama 9 bulan 9 hari yang umum. Setelah meninggal maka pindah ke alam barzah atau alam kubur sampai menunggu hari kiamat.
Setelah itu masih melewati proses lagi, bangun dari alam kuburan juga lama puluhan tahun ribuan tahun menunggu syafaatnya kanjeng Nabi. Setelah itu menunggu lagi persidangan, lalu menunggu sirathal mustaqim (antara masuk surga atau neraka) baru selesai.
Demikian perjalanan manusia itu panjang. Jadi kita di dunia sudah melewati dua alam, yakni alam arwah sama alam kandungan. Perjalanan yang jauh sekali itu perlu bekal yang banyak pula. Adapun wejangannya kanjeng Nabi kepada Ibnu Umar putera sahabat Umar bin Khattab:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
Artinya: “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir.”
Seolah-olah kita merantau dan butuh bekal yang cukup. Setelah mendapatkan dawuh seperti itu, sahabat Umar lalu bersabda:
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ
Artinya: “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari.”
Ketika dirimu waktu sore, kamu tidak perlu menunggu sampai besok (dalam hal ibadah). Sahabat Umar mengingatkan orang itu supaya melaksanakan perintah Allah SWT dengan tepat waktu.
Orang jika bisa disiplin itu baik, disiplin dalam hal apapun. Jika orang tidak biasa disiplin maka akan acak-acakan sehingga pekerjaannya bertabrakan dengan yang lain. Ini benar dawuhnya Ibnu Umar di atas. Kalau pagi jangan menunggu sore, kalau sore jangan menunggu pagi. Inilah perlunya merencanakan waktu yang tepat waktu.
Jika kita bisa tepat waktu seperti yang didawuhkan oleh Ibnu Umar di atas, baik itu ketika sekolah, kerja, janjian, apapun itu jika tepat waktu maka waktunya tersebut sangat barokah. Hadits tersebut membawakan pesan, yang pertama itu untuk bekal akhirat yang perjalanannya jauh harus dipersiapkan.
Yang kedua, memanfaatkan waktu, caranya menyiapkan waktu harus tepat, jika pagi jangan menunggu sore jika sore jangan menunggu pagi. Hal tersebut adalah pembelajaran yang luar biasa.
Kemudian disambung oleh sahabat Umar:
وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ
Artinya: “Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu.”
Kamu mumpung masih sehat yang sungguh-sungguh, soalnya jika sakit kamu tidak bisa seperti saat sehat. Ini mengandung petuah yang luar biasa. Orang itu jika masih sehat harusnya kesehatannya dipakai dengan maksimal.
Itu namanya mensyukuri nikmatnya sehat. Syukur itu menggunakan nikmat untuk taat menggunakan kenikmatan Allah SWT yang diberikan kepada kita untuk beribadah.
Orang itu baru merasakan jika nikmatnya tersebut dikurangi. Ketika kita sehat harus bisa mensyukurinya dengan taat dan beribadah, melakukan suatu kebaikan, melakukan suatu yang bermanfaat. Jangan kesehatan itu dibuang-buang dengan percuma.
Maka dari itu, pitutur ini benar-benar sangat penting mumpung kalian sehat. Sehatmu untuk berjaga-jaga jika sakit kalian tidak bisa berbuat apa-apa.
وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Artinya: “Dan hidupmu sebelum matimu.”
Yang kedua, mumpung kamu masih hidup, hidup ini dimanfaatkan yang sebanyak-banyaknya. Hidup kita itu banyak yang menginginkannya, karena kesehatan kita sampai sekarang ini. Bahkan orang mati juga sangat menginginkan hidup kita sekarang ini. Jika ada orang diberikan umur yang panjang tetapi masih lupa jika sudah mati nanti sangat menyesal. Orang yang sudah mendekati kematian, itu meminta untuk ditunda kematiannya untuk bersedekah.
لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
Artinya: “Sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)
Cerita-cerita itu pentingnya makna nikmatnya hidup seperti itu. Jika sudah habis umurnya maka akan sama-sama kecewanya, baik itu orang Islam maupun yang belum banyak amal ibadahnya. Orang baik ingin menambah kebaikannya, orang tidak baik ingin bertobat. Keduanya sama-sama menyesal pada akhirnya.
Kita ini masih hidup di dunia maka masih ada kesempatan untuk beramal baik, memohon ampunan Allah SWT, dan meminta maaf kepada teman-temannya.
Demikianlah wejangannya Ibnu Umar, hidupmu gunakan yang baik mumpung kamu belum mati jika sudah mati nanti kamu akan sangat menyesal. Membaca hadits pendek ini mendapatkan pembelajaran yang banyak. Kita itu ibarat mengembara jauh yang pastinya membutuhkan bekal supaya tenang, tentram, kuburannya luas dan padang, dan lain sebagainya.
Hal ini membutuhkan bekal-bekal dan amal-amal saleh yang bisa menemani kita, mensyafaati kita, membela kita, jika kita sudah mati amal tersebut yang akan menemani kita nanti. Perjalanan panjang yang harus disiapkan bekal yang memadai. Ini perjalanan kita yang jauh supaya disiapkan bekalnya.
Oleh: KH. Asnawi Rohmat, Lc., Pengasuh Pondok Pesantren Al Roudloh
Editor: Rista Aslin Nuha